Kategori Berita

Punya Teknologi Unggulan, Kemenperin Promosi IKM Mesin Pertanian

image

JAKARTA,(RT)-Kementerian Perindustrian terus mempromosikan keunggulan industri kecil dan menengah (IKM) dalam negeri baik di kancah domestik maupun internasional. Upaya ini untuk semakin memperluas pasar dan peningkatan penggunaan produk lokal.


“Kami mengajak kepada semua pihak untuk turut mendukung dan menyukseskan pengembangan IKM dengan mencintai, membeli dan memakai produk hasil karya anak bangsa,” kata Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih di Jakarta, Selasa (31/7).


Misalnya IKM mesin dan perlengkapan yang telah mampu menghasilkan produk berkualitas sehingga kompetitif dengan buatan impor. Kemenperin mencatat, jumlah IKM mesin dan perlengkapan YTDL (yang tidak termasuk dalam lainnya) di dalam negeri sebanyak 5.807 unit usaha pada tahun 2017, dengan nilai produksi mencapai Rp22 triliun atau naik dibanding 2016 sebesar Rp21,3 triliun.


“Salah satunya, kami tengah mendorong IKM alat dan mesin yang dapat mendukung sektor pertanian dan perkebunan. Upaya ini guna menunjang program swasembada pangan dalam negeri, yang sejalan dengan visi Indonesia untuk menjadi lumbung pangan dunia pada tahun 2045,” papar Gati.


Menurutnya, IKM alat dan mesin pertanian di dalam negeri sudah banyak yang menggunakan teknologi terkini sehingga menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. Oleh karenanya, Kemenperin memfasilitasi sekitar empat IKM alat dan mesin pertanian ikut berpartisipasi pada Indonesia International Agricultural Machinery, Equipment, Technology & Services Exhibition (INAGRITECH) 2018 di Jakarta, pekan lalu.


“Dengan didatangi sebanyak 15.000 pengunjung yang meliputi kalangan profesional dan pebisnis sektor alat dan mesin pertanian dari dalam dan luar negeri, pameran tersebut bisa menjadi platform paling komprehensif untuk sektor IKM alat dan mesin pertanian kita,” tuturnya.


PT. Fogerindo Barnama merupakan salah satu peserta yang dikenal sebagai produsen dan distributor peralatan pengendalian hama serta insektisida lingkungan. “Fogerindo Barnama juga menjadi produsen mesin fogging (pengasapan) yang sudah berhasil menembus pasar ekspor,” jelas Gati.


Kemudian, PT. Mitra Balai Industri merupakan perusahaan yang memproduksi pompa pengairan serta pengolah limbah rumah tangga untuk dijadikan pupuk organik. IKM yang didirikan sejak tahun 2006 ini, telah mendapat beberapa fasilitasi bantuan dari Kemenperin. “Pada tahun 2013, mereka berhasil men-supply produk lebih dari 2000 unit yang telah terjual ke Aceh hingga Papua,” ungkap Gati.


IKM lainnya, yaitu PD. Karya Mitra Usaha yang memproduksi mesin dan alat pertanian, alat pengolahan sampah, alat packing, alat perlengkapan toko, alat pembibitan dan tanam, alat pengolahan tanah, serta alat laboratorium. “IKM selanjutnya adalah CV. Saya Cinta Kopi yang memproduksi mesin pengolahan kopi, yang juga melakukan demo mesin roasting kopi selama pameran berlangsung,” imbuhnya.


Gati menambahkan, dalam pameran tersebut, pihaknya juga memberikan layanan Klinik Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang bertugas untuk memberikan layanan HKI bagi IKM yang membutuhkan informasi, sosialisasi, fasilitasi pendaftaran, advokasi, dan layanan bagi para pengusaha IKM.


“Pada tahun 2017 Klinik HKI IKM telah menyalurkan bantuan untuk 3400 merek, 120 hak cipta, 6 desain industri, 17 paten dan 1 indikasi geografis,” pungkasnya.


Program DAPATI


Pada kesempatan berbeda, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Ngakan Timur Antara menyampaikan, IKM merupakan sektor yang sangat berperan strategis dalam memacu pertumbuhan ekonomi nasional. Hal itu terlihat dari jumlah IKM di Indonesia sebanyak 4,59 juta unit usaha yang tersebar di seluruh daerahdengan menyerap tenaga kerja lebih dari 10,57 orang.


“IKM mampuberkontribusi terhadap nilai output industri nonmigas hingga 20,26 persen. Kinerja ini menjadikan IKM masuk ke dalam 10 prioritas nasional dalam inisiatif Making Indonesia 4.0,” ujarnya. Maka itu,tidak dipungkiri bahwa selama ini IKM turut mewujudkan kemandirian ekonomi, produktivitas rakyat, dan daya saing di pasar internasional serta membangun daerah dan pedesaan.


Makan itu, menurut Ngakan, pemerintah saat ini semakin meningkatkan upaya pengembangan industri nasional agar lebih berdaya saing global melalui berbagai instrumen, baik berupa kebijakan maupun dukungan sarana dan prasarana industri. Dalam hal ini, termasuk juga fokus kepada sektor IKM.


”Penggunaan teknologi merupakan salah satu faktor penting untuk mendongkrak kekuatanIKM kita agar menghasilkan produk yang lebih kompetitif di tingkat nasional maupun global. Selain itu dapat pula mendorong terciptanya inovasi sejalan dengan implementasi di era revolusi industri 4.0,” paparnya.


Ngakan menyebutkan, Kemenperin memiliki program Dana Kemitraan Peningkatan Teknologi Industri (DAPATI) yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan IKM dalam pengembangan dan penerapan teknologi industri. ”Program ini dilaksanakan melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Industri dan Kekayaan Intelektual,” imbuhnya.


Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Industri dan Kekayaan Intelektual Kemeneperin, Sony Sulaksono menjelaskan, program DAPATI memberikan bantuan pendanaan berupa sebagian biaya yang diperlukan untuk pelayanan jasa konsultansi teknisguna mengatasi permasalahan yang dihadapi IKM,sehingga meningkatkan efisiensi, produktivitas, nilai tambah, daya saing, dan kemandirian IKM.


“Bentuk bantuan jasa konsultansi teknis tersebut mengacu pada skema kemitraan, di mana IKM turut membiayai proyek tersebut dengan skema 75 persen pembiayaan pemerintah melalui dana bantuan berupa jasa konsultansi teknis dan 25 persen pembiayaan pelaku IKM,” ungkapnya.


Dalam lima tahun terakhir, sebanyak 25 IKM yang tersebar di seluruh Indonesia telah merasakan benefit dari program DAPATI, mulai IKM garam di Aceh yang mendapatkan jasa konsultansi peningkatan proses produksi garam melalui Balai Riset dan Standardisasi Aceh, IKM Keramik Hias di Bandung yang mendapat jasa konsultansi peningkatan produktivitas dan daya saing produk keramik hias melalui Balai Besar Keramik.


Kemudian, IKM Batik di Yogyakarta yang mendapat jasa konsultansi pengembangan produk desain batik melalui Balai Besar Kerajinan dan Batik, serta IKM Cokelat di Makassar yang mendapat jasa konsultansi peningkatan mutu produk cokelat dengan perbaikan proses tempering melalui Balai Besar Industri Hasil Perkebunan.


Pada tahun 2018 ini sedang dilaksanakan bantuan jasa konsultansi dan bimbingan teknis melalui program DAPATI kepada lima IKM, meliputi IKM pengolahan teh serai di Tenggarong, IKM manisan terong di Tanah Laut, IKM cokelat di Bali, IKM kopi di Malinau, dan IKM Batik di Bulungan.(ARD)

Wed, 31 Oct 2018 @19:54

Copyright © 2018 WWW.REPORTASETANGERANG.COM · All Rights Reserved