Kategori Berita

Kemenperin Ungkap Keunggulan Industri Makanan dan Minuman Kepada Peserta Bakohumas

image

JAKARTA,(RT)-Industri makanan dan minuman merupakan salah satu manufaktur unggulan yang mampu memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian bertekad untuk semakin meningkatkan daya saingnya agar lebih kompetitif di pasar domestic maupun global.


 


“Di dalam peta jalan Making Indonesia 4.0, industri makanan dan minuman termasuk sektor yang akan diprioritaskan pengembangannya karena dipilih menjadi pionir dalam implementasi industri 4.0 di Tanah Air,” kata Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kemenperin, Abdul Rochim pada Forum Komunikasi Badan Koordinasi Kehumasan (Bakohumas) yang diselenggarakan oleh Humas Kemenperin di Jakarta, Kamis (26/7).


 


Bakohumas merupakan lembaga nonstruktural yang anggotanya berisikan pegawai Humas di lingkungan Kementerian dan Lembaga. Tugasnya adalah saling berkoordinasi untuk menyampaikan segala informasi kepada seluruh lapisan masyarakat mengenai program dan kebijakan pemerintah.


 


Kepada peserta Bakohumas, Rochim menyampaikan, industri makanan dan minuman nasional masih memiliki potensi pertumbuhan yang cukup baik karena didukung oleh sumber daya alam yang berlimpah dan permintaan domestik yang besar. ”Laju pertumbuhan sektor industri makanan dan minuman pada triwulan I tahun 2018 mencapai 12,70 persen dan berkontribusi hingga 35,39 persen terhadap PDB industri non-migas,” ungkapnya.


 


Pada tahun 2017, industri makanan dan minuman sebagai penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri nonmigas yang mencapai 34,33 persen. Di samping itu, pertumbuhananya sebesar 9,23 persen atau mengalami peningkatan jika dibandingkan tahun 2016 sekitar 8,46 persen.


 


Selanjutnya, nilai ekspor produk makanan dan minuman termasuk minyak kelapa sawit pada tahun 2017 mencatatkan di angka USD31,7 miliar, sehingga mengalami neraca perdagangan yang positif apabila dibandingkan dengan impor produk mamin pada periode yang sama sebesar USD9,6 miliar.


 


Sementara itu, apabila dilihat dari perkembangan realisasi investasi sektor industri makanan dan minuman pada tahun 2017, yakni mencapai Rp38,54 triliun untuk PMDN dan PMA sebesar USD1,97 miliar.


 


“Dengan adanya kebijakan yang mendukung pengembangan industri makanan dan minuman. Kami optimitis, kinerja sektor ini di tahun 2018 bisa mencapai 8-9 persen, sebagai target moderat,” ungkap Rochim.


 


Untuk itu, mutlak dilakukan sinergi program dan kegiatan antara pemerintah dan stakeholder dalam pengembangan industri makanan dan minuman nasional, mulai dari mempermudah akses bahan baku, sistem logistik dan distribusi, serta kegiatan penelitian dan pengembangan untuk menciptakan inovasi. “Upaya ini juga mendukung dalam penerapan industri 4.0,” imbuhnya.


 


Pemanfaatan teknologi


Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Gati Wibawaningsih menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi digital di sektor industri. Upaya ini guna menghasilkan efisiensi dalam peningkatan produktivitas dan kualitas.


 


“Industri 4.0 sendiri ditopang oleh lima teknologi, diantaranya internet dan perangkatnya, human-machine interface, teknologi robotik dan sensor, artificial intelligence, dan teknologi 3D printing,” ujarnya. 


 


Di samping itu, terdapat 10 inisiatif nasional untuk mendukung peta jalan Making Indonesia 4.0. Ke-10 inisiatif tersebut meliputi perbaikan alur aliran barang dan material, desain ulang zona industri, mengakomodasi standar-standar keberlanjutan, memberdayakan UMKM, membangun infrastruktur digital nasional, menarik minat investasi asing, peningkatan kualitas SDM, pembangunan ekosistem inovasi, insentif untuk investasi teknologi, dan harmonisasi aturan dan kebijakan. 


 


Gati juga menyebutkan, ada lima sektor unggulan yang menjadi fokus utama dalam penerapan industri 4.0 di Indonesia, yakni industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan elektronik. “Industri makanan dan minuman di dalam negeri tidak hanya didominasi perusahaan besar, tetapi juga cukup banyak sektor IKM,” tegasnya.


 


IKM makanan dan minuman mencatatkan kontribusinya hingga 40 persen terhadap PDB sektor IKM secara keseluruhan, dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 42,5 persen dari total pekerja di sektor IKM.


 


Oleh karena itu, IKM makanan dan minuman menjadi salah satu sektor prioritas dalam penerapan program e-Smart IKM seiring implementasi industri 4.0 di Tanah Air. Hingga bulan Mei 2018, jumlah pelaku IKM yang telah mengikuti Workshop e-Smart IKM berjumlah 2430 IKM, dan lebih dari 30 persen peserta berasal dari pelaku IKM makanan dan minuman.


 


“Melalui program e-smart IKM, kami ajarkan mereka mengenai caranya jualan online,” jelas Gati. Dalam pelaksanaannya, Kemenperin telah menggandeng lima marketplace dalam negeri, yakni Bukalapak, Tokopedia, Shopee, Blanja.com dan Blibli. “Marketplace itu diantaranya sudahunicorn,” imbuhnya.


 


Selain diskusi, Kemenperin juga memfasilitasi peserta forum Bakohumas untuk melihat dari dekat mengenai implementasi industri 4.0 di industri makanan dan minuman. Para peserta diajak meninjau langsung proses produksi PT Mayora yang berlokasi di Tangerang.


 


Implementasi industri 4.0 di PT Mayora, terlihat dari pemeriksaan kualitas proses lini produksi meliputi Incoming Material Inspection (pemeriksaan pada saat penerimaan bahan), Audit Supplier (pemeriksaan pemasok bahan), Field Process Inspection (pemeriksaan proses produksi), Finished Goods Final Inspection (pemeriksaan akhir pada barang jadi), dan Sensory Evaluation Test (tes evaluasi sensorik)


 


Diharapkan, acara yang dihadiri Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Rosarita Niken Widiastuti ini, juga memberikan semangat optimisme kepada seluruh peserta Bakohumas bahwa industri nasional sudah siap memasuki industri 4.0 melalui pemanfaatan teknologi terkini. Tujuannya, mendorong pertumbuhan ekonomi nasional serta mewujudkan aspirasi untuk menjadikan Indonesia sebagai negara 10 besar dengan perekonomian terkuat di dunia pada 2030.(ARD)

Wed, 31 Oct 2018 @19:51

Copyright © 2018 WWW.REPORTASETANGERANG.COM · All Rights Reserved